MODEL KATAHANAN PANGAN

MODEL KETAHANAN PANGAN TINGAT KELUARGA BURUH TANI PADI

(Kasus di Kec. Kopo Kab. Serang Prov. Banten)

Disusun oleh :

ABDULLAH

(061075)

JURUSAN SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

2009

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

Pertumbuhan penduduk yang tinggi (over population) dan konversi lahan pertanian menjadi masalah serius yang dihadapi Indonesia. Sejak tahun 1930 hingga tahun 2000 pertumbuhan penduduk Indonesia berlangsung sangat cepat. Menurut Lembaga Demografi Universitas Indonesia, pada tahun 2015, jumlah penduduk Indonesia bisa mencapai 300 juta jiwa. Dalam data internasional, populasi penduduk Indonesia ke-4 terbesar dari 194 negara di dunia yaitu 238.452.952 jiwa (CIA, 2004). Tingginya tingkat populasi dan konversi lahan memiliki sifat yang sangat berkaitan erat. Faktor utama terjadinya konversi lahan adalah tingkat populasi yang tinggi. Selama tahun 2000-2002, luas konversi lahan sawah yang ditujukan untuk pembangunan non-pertanian, seperti kawasan perumahan, industri, perkantoran, jalan, dan sarana publik lainnya rata-rata sebesar 110,16 ribu hektar per tahun (Sutomo, 2004). Dilain pihak Indonesia perlu meningkatkan produksi beras untuk memenuhi kebutuhan 2,3 juta penduduk. Dengan populasi sebanyak itu diperlukan lahan pertanian seluas 15 juta hektar. Sementara saat ini, Indonesia hanya memiliki lahan pertanian sekitar 7 juta hektar. Hal ini secara nyata mengganggu ketahanan pangan Indonesia.

Kondisi petani menjadi semakin memprihatinkan selain karena dampak konversi lahan pertanian juga karena ± 60% penduduk bergantung pada sektor pertanian. Terlebih lagi pada keluarga buruh tani dimana kelompok ini memiliki prosentase terbesar yaitu 80% dari total petani Indonesia. Menurut data BPS tahun 2008, populasi penduduk miskin di banten adalah 9.07%. Berdasarkan Human Development Index (HDI) tingkat rata-rata lama sekolah hanya 8,1 tahun  pada tahun 2007.(BPS prov. Banten). Dimana petani menjadi kelompok terbesar pada golongan ini.

Dengan semua masalah tersebut maka faktor gangguan terhadap ketahanan pangan keluarga buruh tani semakin besar. Sehingga untuk mengetahui ketahanan pangan ditingkat keluarga buruh tani diperlukan identifikasi faktor-faktor yang menyebabkan ketahanan pangan keluarga buruh tani. Faktor-faktor yang telah teridentifikasi kemudian digunakan sebagai dasar penyusunan model ketahanan pangan tingkat keluarga buruh tani.

1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan pada latar belakang masalah diatas, maka dapat diidentifikasi masalah-masalah sebagai berikut:

  1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketahanan pangan ditingkat keluarga buruh tani padi di kecamatan kopo ?
  2. Bagaimana model ketahanan pangan tingkat keluarga buruh tani padi di kecamatan kopo ?

1.3 Batasan Masalah

Batasan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor yang menyebabkan ketahanan pangan ditingkat keluarga buruh tani padi di kecamatan kopo.
  2. Model ketahanan pangan keluarga buruh tani padi.

1.4 Perumusan Masalah

Rumusan masalah penelitian ini berdasarkan identifikasi dan batasan masalah diatas adalah sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor apa saja yang menyebabkan ketahanan pangan di tingkat keluarga buruh tani padi di kecamatan kopo ?
  2. Bagaimana model ketahanan pangan tingkat keluarga buruh tani padi ?

1.4 Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian mengenai model ketahanan pangan tingkat keluarga buruh tani padi adalah sebagai berikut :

  1. Untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan ketahanan pangan ditingkat keluarga buruh tani padi di kecamatan kopo.
  2. Untuk membuat model ketahanan pangan tingkat keluarga buruh tani padi.

1.5 Kegunaan Hasil Penelitian

Dengan adanya penelitian ini maka diharapkan dapat memberikan kegunaan untuk :

  1. Bagi penulis sendiri yakni mengembangkan keilmuan dan wawasan mengenai ketahanan pangan.
  2. Dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan dan referensi bagi pihak-pihak yang mempunyai kepentingan, baik swasta maupun pemerintah.
  3. Memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai pentingnya menjaga ketahanan pangan ditingkat keluarga.
  4. Sebagai bahan kajian lebih lanjut pada penelitian yang dilakukan di masa yang akan datang.


BAB II LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Ketahanan Pangan

Menurut Bank Dunia (1986) dan Maxwell  dan  Frankenberger  (1992) ketahanan pangan didefinisikan sebagai “ akses  semua  orang  setiap  saat    pada pangan yang cukup untuk hidup sehat (secure access at all times to sufficient food for a healthy  life). Sedangkan menurut Undang-Undang  Pangan  No.7  Tahun  1996, ketahanan pangan adalah kondisi  terpenuhinya  kebutuhan pangan bagi rumah tangga yang tercermin dari tersedianya pangan secara cukup, baik dari jumlah maupun mutunya, aman, merata dan terjangkau.

2.2 Subsistem ketahanan pangan

Sub  sistem  ketahanan  pangan    terdiri  dari    tiga  sub  sistem  utama  yaitu ketersediaan,  akses,  dan  penyerapan  pangan,  sedangkan    status  gizi  merupakan outcome dari  ketahanan  pangan.

a. Kecukupan ketersediaan pangan

Ketersediaan pangan dalam rumah tangga yang dipakai dalam pengukuran mengacu pada pangan yang cukup dan tersedia dalam jumlah yang dapat memenuhi kebutuhan konsumsi rumah tangga. Penentuan jangka waktu ketersediaan makanan pokok di perdesaan biasanya dilihat dengan mempertimbangkan jarak antara musim tanam dengan musim tanam berikutnya (Suharjo dkk, 1985:45). Perbedaan jenis makanan pokok yang dikomsumsi antara dua daerah membawa implikasi pada penggunaan ukuran yang berbeda, seperti cotoh berikut ini.

(a) Di daerah dimana penduduknya mengkonsumsi beras sebagai makanan pokok (seperti Provinsi Lampung) digunakan cutting point 240 hari sebagai batas untuk menentukan apakah suatu rumah tangga memiliki persediaan makanan pokok cukup/tidak cukup. Penetapan cutting point ini didasarkan pada panen padi yang dapat dilakukan selama 3 kali dalam 2 tahun. Pada musim kemarau, dengan asumsi ada pengairan, penduduk dapat musim tanam gadu, yang berarti dapat panen 2 kali dalam setahun. Tahun berikutnya, berarti musim tanam rendeng, dimana penduduk hanya panen 1 kali setahun karena pergantian giliran pengairan. Demikian berselang satu tahun penduduk dapat panen padi 2 kali setahun sehingga rata-rata dalam 2 tahun penduduk panen padi sebanyak 3 kali.

(b) Di daerah dengan jenis makanan pokok jagung (seperti Provinsi Nusa Tenggara Timur) digunakan batas waktu selama 365 hari sebagai ukuran untuk menentukan apakan rumah tangga mempunyai ketersediaan pangan cukup/tidak cukup. Ini didasarkan pada masa panen jagung di daerah penelitian yang hanya dapat dipanen satu kali dalam tahun.

Disadari bahwa ukuran ketersediaan pangan yang mengacu pada jarak waktu antara satu musim panen dengan musim panen berikutnya hanya berlaku pada rumah tangga dengan sektor pertanian sebagai sumber mata pencaharian pokok. Dengan kata lain, ukuran ketersediaan makanan pokok tersebut memiliki kelemahan jika diterapkan pada rumah tangga yang memiliki sumber penghasilan dari sektor non-pertanian.

b. Stabilitas ketersediaan

Stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga diukur berdasarkan kecukupan ketersediaan pangan dan frekuensi makan anggota rumah tangga dalam sehari. Satu rumah tangga dikatakan memiliki stabilitas ketersediaan pangan jika mempunyai persediaan pangan diatas cutting point (240 hari untuk Provinsi Lampung dan 360 hari untuk Provinsi NTT) dan anggota rumah tangga dapat makan 3 (tiga) kali sehari sesuai dengan kebiasaan makan penduduk di daerah tersebut.

Dengan asumsi bahwa di daerah tertentu masyarakat mempunyai kebiasaan makan 3 (tiga) kali sehari, frekuensi makan sebenarnya dapat menggambarkan keberlanjutan ketersediaan pangan dalam rumah tangga. Dalam satu rumah tangga, salah satu cara untuk mempertahankan ketersediaan pangan dalam jangka waktu tertentu adalah dengan mengurangi frekuensi makan atau mengkombinasikan bahan makanan pokok (misal beras dengan ubi kayu). Penelitian yang dilakukan PPK-LIPI di beberapa daerah di Jawa Barat juga menemukan bahwa mengurangi frekuensi makan merupakan salah satu strategi rumah tangga untuk memperpanjang ketahanan pangan mereka (Raharto, 1999; Romdiati, 1999).

Penggunaan frekuensi makan sebanyak 3 kali atau lebih sebagai indikator kecukupan makan didasarkan pada kondisi nyata di desa-desa (berdasarkan penelitian PPK-LIPI), dimana rumah tangga yang memiliki persediaan makanan pokok ‘cukup’ pada umumnya makan sebanyak 3 kali per hari. Jika mayoritas rumah tangga di satu desa, misalnya, hanya makan dua kali per hari, kondisi ini semata-mata merupakan suatu strategi rumah tangga agar persediaan makanan pokok mereka tidak segera habis, karena dengan frekuensi makan tiga kali sehari, kebanyakan rumah tangga tidak bisa bertahan untuk tetap memiliki persediaan makanan pokok hingga panen berikutnya.

Kombinasi antara ketersediaan makanan pokok dengan frekuensi makan (3 kali per hari disebut cukup makan, 2 kali disebut kurang makan, dan 1 kali disebut sangat kurang makan) sebagai indikator kecukupan pangan, menghasilkan indikator stabilitas ketersediaan pangan yang dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 1 : Penetapan indikator stabilitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga (dengan contoh Kabupaten di Provinsi Lampung dan NTT)

Kecukupan ketersediaan pangan Frekuensi makan anggota rumah tangga
> 3 kali 2 kali 1 kali
> 240 hari> 360 hari Stabil Kurang stabil Tidak stabil
1 -239 hari1 – 364 hari Kurang stabil Tidak stabil Tidak stabil
Tidak ada persediaan Tidak stabil Tidak stabil Tidak stabil

c. Aksesibilitas/keterjangkauan terhadap pangan

Indikator aksesibilitas/keterjangkauan dalam pengukuran ketahanan pangan di tingkat rumah tangga dilihat dari kemudahan rumahtangga memperoleh pangan, yang diukur dari pemilikan lahan (missal sawah untuk provinsi Lampung dan ladang untuk provinsi NTT) serta cara rumah tangga untuk memperoleh pangan. Akses yang diukur berdasarkan pemilikan lahan dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori:

  • Akses langsung (direct access), jika rumah tangga memiliki lahan sawah/ladang
  • Akses tidak langsung (indirect access) jika rumah tangga tidak memiliki lahan sawah/ladang.

Cara rumah tangga memperoleh pangan juga dikelompokkan dalam 2 (dua) kateori yaitu: (1) produksi sendiri dan (2) membeli. Indikator aksesibilitas/keterjangkauan rumah tangga terhadap pangan dikelompokkan dalam kategoti seperti pada tabel berikut:

Tabel 2 : Penetapan indikator aksesibilitas/keterjangkauan pangan di tingkat rumah tangga

Pemilikan sawah/ladang Cara rumah tangga memperoleh bahan pangan
Punya Akses langsung Akses tidak langsung
Tidak punya Akses tidak langsung

Dari pengukuran indikator aksesibilitas ini kemudian diukur indikator stabilitas ketersedian pangan yang merupaan penggabungan dari stabilitas ketersediaan pangan dan aksesibilitas terhadap pangan. Indikator stabilitas ketersediaan pangan ini menunjukkan suatu rumah tangga apakah:

  • Mempunyai persediaan pangan cukup
  • Konsumsi rumah tanga normal dan
  • Mempunyai akses langsung tarhadappangan

Indikator kontinyuitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga dapat dilihat dalam tabel berikut.

Tabel 3.: Penetapan indikator kontinyuitas ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga

Akses terhadap pangan Stabilitas ketersediaan pangan rumah tangga
Stabil; Kurang stabil Tidak stabil
Akses langsung Kontinyu Kurang kontinyu Tidakkontinyu
Akses tidak langsung Kurang kontinyu Tidak kontinyu Tidak kontinyu


METODOLOGI PENELITIAN

  1. A. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey dimana penulis melakukan kunjungan langsung ke lapangan berupa observasi. Hal ini dimaksudkan untuk melihat bagaimana fenomena yang berkembang di masyarakat pada daerah penelitian tentang keterkaitan antara tingkat volume kendaraan bermotor terhadap tingkat polusi udara.

  1. B. Populasi dan Sampel

Populasi penelitian adalah masyarakat pemilik sepeda motor yang ada di provinsi Banten. Sampel diambil secara acak (random) dengan teknik multiple stage random sampling. Menurut Suharsimi Arikunto (1996) mengemukakan bahwa apabila dalam satu populasi kurang dari 100 anggota, maka pengambilan sampel seluruhnya, dan apabila populasinya lebih dari 100 anggota maka sampel diambil 10-25%. Provinsi banten terdiri dari 5 kabupaten dan 2 kodya. Diambil 2 daerah secara acak, kemudian diambil kembali sampel penelitian secara acak menjadi 20 kecamatan.

  1. C. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ialah data primer dan data sekunder. Data primer diperoleh dengan cara observasi langsung kelapangan dan dengan melakukan wawancara terhadap responden. Sedangkan dara sekunder ialah data dari BPS provinsi Banten.

  1. D. Teknik Analisis Data

Data hasil penelitian dianalisis menggunakan statistik parametrik dengan uji korelasi Product Moment serta uji regresi sederhana. Dengan kedua analisis tersebut akan diketahui hubungan dan pengaruh tingkat volume kendaraan bermotor terhadap tingkat polusi udara. Hasil korelasi tersebut diinterpretasikan untuk mengetahui tingkat hubungan dari kedua variabel tersebut. Untuk pengujian tingkat signifikansi dicari dengan penghitungan pelung dengan statistik ujinya menggunakan uji z.

  1. E. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilaksanakan di 20 kecamatan pada kabupaten Serang dan Kodya Cilegon. Waktu penelitian dimulai pada bulan Januari 2009 sampai Maret 2009 dengan tahapan sebagai berikut :

Tahap I : perencanaan penelitian dan persiapan instrument serta metode

penelitian.

Tahap II : tinjauan langsung ke lapangan. Penentuan objek-objek pengamatan

dan pengumpulan data dan informasi.

Tahap III : evaluasi penelitian dan pengolahan data.

Tahap IV : survey kembali kelapangan dan pengakurasian data.

Tahap V : analisis data dan pembuatan laporan penelitian.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: